Cerita Horor “Teka-Teki” Part III

Halo sobat misteriluhur, kali ini Ka J akan melanjutkan Cerita Horor Teka-Teki.

 

Langsung saja ke ceritanya

Teka-Teki 

 

Jam menunjukan pukul pukul 3 dini hari. Aku tidur dengan gelisah. Membalak-balikan badan juga percuma yang ada badan terasa sakit jadinya.

Aku masih menginggat kejadian semalam. Ku hembuskan napas dan memilih duduk bersandar di kepala ranjang.

Aku menatap ke jendela yang gordenya sedikit bergoyang-goyang karena hembusan angin dari fentilasi.

Aku menyibak kain yang menutupi setengah tubuh, namun saat aku berdiri terdengar suara helaan napas panjang dari belakang.

Aku mengusap tengkukku yang merasa hangat. Bunyi langkah seseorang jelas terdengar di luar sana. Aku menatap bingung ke arah pintu yang tertutup.

“Apa lagi ini,” gumamku. Ku acak ramputku sebentar dan memilih duduk di samping meja belajar. Ku buka buku yang biasa ku jadikan untuk menulis outline novel.

Aku menatap cukup lama setengah kertas yang sudah ku tulis. “Askara Tanpa Suara,” gumamku membaca judulnya.

“Maaf.” Suara itu membuatku terbelalak kaget. “Astafirullah.”

Terlihat pantulan diri seseorang dikaca. Aku mengucap istifar melihat itu. “Maaf, biarkan saya tenang,” lirihnya. Aku membulatkan mata sempurna.

“M-maksudnya?” tanyaku terbata-bata.

“Biarkan saya pulang,” ujarnya.

Aku menoleh ke setiap sudut ruangan. Nihil, tidak ada seseorang. Bahkan pantulan diri orang itu juga telah mrnghilang.

“Hati kecilmu terlalu kecewa, tolong maafkan lah,” lirihnya terdengar menggema di telingaku.

Aku memejamkan mataku kuat-kuat, antara rasa takut dan sakit berdatangan bersama. Perasaan emang tidak bisa dibohongi. “Kakek tau kamu kecewa dengan prilaku kami, maafkan lah,” ujarnya menyebut nama Kakek membuatku beransumsi itu kakekku yang telah meninggal.

Aku meningat kembali kejadian semalam. “Maaf dengan cara yang salah dengan menakuti kami,” ujarku memberanikan diri menatap nyalang entah kesiapa.

“Tolonglah.”

Apa ini akhir dari teka-teki itu, aku memejamkan mataku. Terlihat gorden jendela bergoyang-goyang dengan sendirinya.

Berdemat dengan mereka tidak ada gunanya. “Aku tidak membencimu, namun terlanjur kecewa. Namun, aku juga tidak menaruh dendam kepadamu. Kenapa kau masih mengganggu ku?”

Tak ada sahutan sama sekali. Aku menutup buku dan melangkah ke ranjang. “Sekarang aku minta tolong, pergilah jangan ganggu kami,” ujarku.

Seketika bunyi benda dibanting terdengar dari luar. Aku tersenyum masam. Sebenarnya apa yang mau dia sampaikan?

 

Bersambung.

 

Prev Chapter                                                                                                              Next Chapter

 

Bagaimana kawan misteri luhur, suka dengan cerita horor ini ? jangan lupa share agar kita bisa terus update cerita-cerita horor untuk menemani malammu.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *