Cerita Horor “PAMALI !”

Halo sobat misteriluhur, kali ini Ka J akan membagikan Cerita Horor.

 

Langsung saja ke ceritanya.

Pamali

 

Kenapa aku tak boleh melakukan dan  mengucapkannya? Eum, menyebalkan sekali.

Aku menarik napas sejenak kemudian menatap batu besar di depanku. Kebetulan sewaktu pulang dari mesjid aku melewati kawasan yang sepi itu.

Sekarang sudah menujukan pukul setengah sembilan malam. Tidak ada orang yang berlalu lalang. Aku tersenyum picik menatap batu besar di hadapanku.

“Pamali,” gumamku. Aku melirik sekitar namun tak ada siapa-siapa selain diriku dan ditemani angin malam.

“Pamali,” ujarku dengan suara yang sedikit keras.

Pamali merupakan larangan melakukan dan mengucapkan sesuatu, namun di daerahku kata pamalilah yang tak boleh dikatakan apalagi di depan sebuah batu besar.

“Pa—”

“Nia, kamu ngapain di sini. Kenapa belum pulang?” tanya Bi In mengagetkan ku. Bi In merupakan tetangga sebelah rumahku.

“Bi In ngagetkan aku saja,” dengusku. Aku mengangguk berjalan beriringi pulang bersama Bi In.

Sesampai di rumah aku terdiam cukup lama di teras sebelum masuk ke dalam rumah. “Bukannya Bi In lagi sakit ya?” gumamku menatap rumah Bi In.

Kerutan di dahi begitu terlihat. “Mungkin udah sembuh kali,” ujarku cuek dan memilih masuk.

Paginya teriakan Emak mengagetkanku dari mimpi indah, dengan wajah mengantuk ku berjalan sempoyongan membuka pintu.

“Iya Mak,” ujarku mengusap wajah.

“Tolong kasih ke Bi In ya, kasian masih sakit,” ujar Mak memberikan rantang kepadaku.

Aku menatap rantang tersebut. “Bukannya Bi In dah sembuh ya Mak. Kemarin malam aja aku pulang bareng dari mesjid,” ujarku.

“Masih sakit, kemarin malam Mak ke sana di rumah aja kok orangnya, gih antarkan kasian belum sarapan,” suruh Mak.

Aku mengangguk dengan ragu, sebelum pergi ku sempatkan untuk membasuh wajah serta menggosok gigi.

Saat melewati kaca di ruang makan, ada bayangan hitam yang mengikutiku. Aku milirik sekilas namun tak ada apa-apa.

“Pamali,” bisikan itu membuat bulu kudukku berdiri.

“Mak bilang pamali ya?” tanyaku kebetulan berada di teras.

“Huss, ndak boleh ngomong gitu,” ujar Mak meperingatiku.

Aku melongos pergi ke rumah Bi In. Saat mengetok pintu ternyata suaminya sudah lebih dahulu membuka pintu.

“Pakle, Bi In ada?” tanyaku.

pamali

Pakle menatapku, dia menganguk. “Masuk aja ke dalam, bibimu lagi di ruang tengah, ajak sekalian temanmu masuk.” Aku mengangguk namun saat berada melihat Bi In yang tengah istirahat di atas kasur aku baru menyadari.

Teman? Teman siapa yang dimaksud Pakle bukannya aku hanya sendirian ke sini?

“Nia ngapain berdiri di situ. Sini ajak temanmu juga.” Suara Bi In mengagetkan lamunanku. Aku segera menghampiri dan meletakan rantang isi makanan di atas meja.

“Eh, teman?” tanyaku bingung.

“Siapa?” tanyaku ke Bi In.

“Itu temanmu yang ada di belakang.” Aku menoleh, sekita mataku terbelalak kaget, sosok anak-anak dengan tubuh gempal dan berbulu.

“Bi,” lirihku dengan badan bergetar dan akhirnya pingsan melihat makhluk yang sangat menyeramkan itu.

Lima belas menit setelah itu aku terbangun, ku lihat Emak duduk di sampingku. “Di minum dulu Nia,” ujar Pakle menyodorkan segelas air.

Aku mengaguk lemah, “makasi Pakle.”

Mak menatapku penuh tanda tanya. Akhirnya aku menceritakan semuanya mulai mengucapkan pamali di depan batu besar di dekat mesjid dan pulang bersama Bi In.

Jelas Mak terkejut mendengar penjelasanku. “Makanya Mak ingetin malah ngeyel, tau rasakan digitilin sama mereka,” omel Mak kepadaku.

Aku meringis kapok. Cukup terakhir kali saja bertemu dan mengucapkan kata yang bisa dikatan sakral itu. Amit-amit kejadian tersebut terulang kembali.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.