Cerita Horor “MATI!”

Halo sobat misteriluhur, kali ini Ka J akan membagikan Cerita Horor pendakian gunung.

 

Langsung saja ke ceritanya

Mati

Aku terdiam lama menatap kosong ke depan. Bayangan seseorang memenuhi pikiranku saat ini.
Di bawah sana terdapat kolom ikan. Sekarang aku berada di lantai dua tepatnya d balkon tanpa ada pagarnya.
Ku lihat langit di atas sana. Cerah bahkan awanpun tak ada yang melintasinya. Berbanding terbalik dengan perasaanku saat ini yang dirundung kegelisahan.
Aku berulang kali menghela napas gusar. Ku tarik kursi ke ujung balkon. Tak lupa mengambil buku serta spidol di dalam kamar.
Aku terdiam cukup lama melihat kertas kosong di pangkuanku.
Aku kembali menghela napas. “Eum, mengapa sih aku,” gerutuku membuka tutup spidol yang bertinta merah tersebut.
Aku membuat garis-garis secara abstrak. Tak lama keras yang penuh dengan coretan itu ku angkat. Mataku membulat melihat hasilnya.
“M-ati?” ujarku terbata. Persaaan diriku hanya mencoret-coret tanpa membuat huruf satupun.
Tengkukku serasa ada yang meniupnya. Aku mengusapnya pelan. Hawa atmosfer di sana cukup gerah mungkin karena cuaca yang panas.
Aku bangkit namun badan aku serasa kaku sekali untuk digerakin. Aku menoleh ke bawah.
Bayangan hitam melintah tertangkap oleh intesi ini. “Eum,” gumamku melihat ke bawah. Seketika kepalaku menjadi pusing. Aku memijit pelipis percuma saja mau bangkit kalau kepalanya sakit.
“Desti,” bisikan halus membuat bulu kudukku berdiri. Aku menunduk karena kepala terasa berat.
“Sayang kamu mau ikut kan?” tanyanya. Intonasi suaranya sungguh menenangkan.
Aku hanya diam, masa bodo siapa yang berbicara saat ini. Tak disangka beberapa helai ramputku rontok karena tarikan tanganku sendiri.
Badan Desti terasa ada yang mendorong ke depan hingga dia terjatuh tepat di bibir balkon. dia menatap ke bawah sambil memegang kepalanya yang serasa mau pecah.
Aku menatap lantai tepat di depanku ada sepasang kaki. Aku hanya menunduk karena sakitnya kepala.
“Ikut saya!” tekannya dengan suara lembut selembut sutra. Aku hanya meringis mendegar suara itu.
Kakiku serasa ada yang menarik ke bawah membuatku terkejut. Tenggorokan terasa tercekik untuk meminta tolong.
“Hihihihi.” Suara itu menggema di di balkon kamar. Aku hanya diam sambil mencoba meraba-raba apa yang bisa untuk dipegang. Namun, tarikan tersebut sunggu kuat membuatku kewalahan ditambah sakit kepala tidak kunjung mereda.
Badanku sudah setengah jatuh aku memegang besi yang ada di menggantung. Suara tertahan untuk meminta tolong, keringat dingin sudah memanjiri tubuhku hingga pada akhirnya pegangan terlepas karena besi yang dipegang terasa licin.
“Haaaaaaaa!”
“Hihihihi,” pekikan itu menggema beriringan dengan kabut hitam pekan yang mengerumi tubuhku. Dan tamat.

Selesai.

 

 

Bagaimana kawan misteri luhur, suka dengan cerita horor pendakian ini ? jangan lupa share agar kita bisa terus update cerita-cerita horor untuk menemani malammu.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *