Cerita Horor – Gamelan Dan Ajakan Kematian

Halo sobat misteriluhur, kali ini J Ka akan membagikan Cerita Horor.

 

Langsung saja ke ceritanya

Gamelan dan Ajakan Kematian

 

Jam menunjukan pukul dua belas siang. Aku termenung menatap hamparan padang rumput di depan sana. Saat ini aku sedang berlibur di salah satu villa di puncak. Hawa dingin yang menyerabak menembus ke dalam pori-pori kulit. Walaupun terik matahari dari atas sana menyilaukan namun tak membuat diriku kepanasan.

“Hai! Bengong aja. Awas kesambet,” ujar Kinan kepadaku. “Yang ada aku yang kesambet gara-gara kamu,” dengkusku. Kinan terkekeh, “btw dingin bangat ya,” ujarnya. Aku mengangguk menyetujui apa yang dia katakan.

“Kita ke sana ntar yuk,” ajakku. Kinan hanya mangut-mangut saja. “Bukannya di sana ada jurang ya?” tanyanya.

“Emang kamu mau main ke jurangnya apa?” dengkusku. Kina menyetir kuda lalu langsung mengiyakan.

“Oke, sip. Jangan lupa bilang sama anak-anak lainnya ya,” ujarnya. “Enak amat nyuruh-nyuruh orang,” gerutunnya.

“Magerrr,” celetukku tertawa.

Kinan keluar dari kamar yang ku tempati. Kebetula  hanya diriku yang tidak ada teman kamarnya karena mereka datang 7 orang ke sini.

Aku bangkit dari dudukku, niat masuk ke dalam kamar. Namun, saat kakiku baru berjalan selangkah vas yang berada di atas meja di balkon jatuh dengan sendirinya. Sontak membuatku memudurkan badan kembali.

“Kok bisa, padahal di tengah loh. Untuk nggak kaca,” gumamku.

Aku kembali meletakan vas tersebut ke atas meja. Namun, baru saja badan berputar beberapa derajat vas itu kembali jatuh.

Aku melirik sekitar buluk kuduknya serasa mengremang.

Aku menunduk untuk mengambil vas tersebut. Namun, saat diriku berdiri kembali semua yang kulihat seakan berputar dengan cepat.

“Astaga,” gumamku memegang apa yang bisa yang ku pegang lantaran pusing.

Ada tarikan kecil membuatku langsung terduduk di lantai. Suara nan lebut seperti selebut sutra tengiang-ngiang di telingaku walau itu samar.

Tak lama bunyi gamelang membuatku terkejut. Suara perempuan dengan nyanyian diiringi Gamelan membuatku ingin pergi dari sana secepatnya. Namun, apalah daya kaki dan badanku seperti tertahan oleh gravitasi bumi.

“Mari ikut bersamaku,” bisikkan tersebut berasal dari belakangku. Aku menggeleng kuat rasa pusing tambah bertambah di kepalaku. Aku berusaha mengapai apa yang bisa menjadi pegangan untuk berdiri.

“Mari ikutlah bersamaku, kau akan bahagia.” Suara tersebut berulang kali terdengar di telingaku dana bunyi gamelang menekan di telingaku.

“Ikutlah bersamaku,” bisikan tersebut. Aku tak menyerah berusaha bediri keringat bercucuran di pelipisku.

Kakiku ku seret masuk ke dalam. Dengan tenaga yang tersisa pintu balkon aku banting dengan kuat. Aku bersandar di balik pintu sambil mengatur napas yang tak karuan.

Badanku ikut lemas setelah mengalami hal yang tak terduga. Sayup-sayup bunyi gamelang masih terdengar di luar sana.

“Nau, ngapain kamu duduk di sana? Kesambet?” tanya Kinan memasuki kamarku. Aku menggeleng lemah.

“Aman kan?” tanyanya lagi aku hanya mengangguk singkat.

“Anak-anak udah pada siap, yuk. Jadikan?” tanyanya lagi. Aku ulurkan tanganku, “Bantu, capek,” ujarku. Kinan mendekus kesal. “Kayak dikejar setan aja kamu, lemas,” ujarnya. Aku tergegung kecil mendengar ucapannya.

“Ayo.”

“Ayo ikut denganku.” Suara Kinan berubah menjadi suara perempuan yang sempat ku dengar tadi luar.

Sotak aku langsung menarik tanganku. Ku lihat tak ada siapa-siapa, bunyi gamelang kembali terdengar membuatku meringkuk ketakutan.

“Tolong siapa di luar bantu aku,” lirihku.

Suara gamelang dan ajakan pergi dengannya itu mendakam di telingaku.

 

Selesai.

 

 

Bagaimana kawan misteri luhur, suka dengan cerita horor? jangan lupa share agar kita bisa terus update cerita-cerita horor untuk menemani malammu.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *