Cerita Horor – Benang Merah.

Halo sobat misteriluhur, kali ini J Ka akan membagikan Cerita Horor.

 

Langsung saja ke ceritanya

 

 

 

 

Benang Merah

 

Tubuh yang lelah ku selenjorkan di atas lantai, dingin itulah yang kurasakan sekarang karena hawa lantai keramik yang mesuk ke ruam pori-pori. Sore ada kebetulan aku ada ekskul pencat silat di sekolah jadi karena latihan yang yang lumayan menguras tenaga.

“Ah, lupa,” gumamku menepuk jidat, ternyata masih ada tugas-tugas yang menunggu namun aku masih asik berselenjoran di sini.

Aku bangkit lantas masuk menuju ke dalam kamar. Di atas meja belajar ada plastik hitam lantas aku mengambilnya dan mengeluarkan isi-isinya.

“Penjahit, benang, celemak, eum kapur,” gumamku. Ku kaitkan benang dengan pejahit, tepi-tepi kain celemak itu mulai ku jahit sesuai garis yang sudah ditandai dengan kapur.

“Laura, astaga,” pekik kakakku masuk ke dalam kamar. Kebetulan pintu kamar tidak ku tutup jadi bisa melihat aktivitas di dalamnya.

“Eum, apa Kak?” tanyaku tanpa menoleh. “Pakaian belum diganti, mandi juga belum. Makan kamu udah?” tanyanya masuk ke dalam kamar.

“Belum, masih ada tugas ntaran aja,” ujarku.

“Kebiasaan,” decaknya. Dia melihat apa yang aku lakukan seketika langsung menarik benang yang menjuntai.

“Aduh,” ringisku karena penjahit menusuk jari manis.

“Kakak kenapa sih!” decakku.

“Lanjutin besok, udah jam berapa ini. Nggak  baik,” ujarnya.

“Tapi, kumpul besok,” ujarku. “Salah sendiri nggak ngerjain jauh-jauh hari, matahari dah terbenam bersih-besih dulu gih,” ujarnya. Dengan terpaksa aku menuruti perkataan Kakak. Ku ambil handuk yang mengantung di belakang pintu. Rasa malas menyeruduk di hati mengingat betapa dingin air yang akan menyentuh kulit.

Setelah Kakak keluar kamar aku memilih duduk di atas ranjang sambil memangku handuk dan menatap pintu kamar mandi dengan datar. “Ntaran aja deh,” gumamku.

Aku kembali beranjak duduk di depan meja belajar, untung saja penjahit dan benang tidak disembunyikan oleh Kakak.

Ku lanjutkan tugas menjahit, tak sengaja tanganku menyenggol benang yang ada di tepi meja hingga jatuh ke bawah kolong meja.

“Ais, merepotkan,” gerutuku mengambil gulungan benang tersebut.

Badanku sedikit menunduk  saat mengambil gulungan benang ternyata ada yang membuatnya tersangut. Bahkan, helain benang kutarik saja sampai panjang. “Sangkut kenapa ini?” gerutuku.

Terus ku tarik hingga tak ada lagi yang bisa ditarik. Ketika mengambil gunting mataku tak sengaja menangkap ada kain merah menjuntai ke lantai. Karena posisi yang tidak pas aku memilih mengnting benang tersebut dan mengumpalkannya menjadi seperti bola.

Rasa penasaranku masih belum terbendung melihat sekilas kain tadi. Posisi dudukku ku sempurnakan menghadap ke samping betapa kagetnya aku melihat baju merah pekat mengembang persis di sebelahku.

“Huaaaaaa!”

Baju mengembang tanpa ada orangnya.

Astagfirullah ….

 

“Ada apa?” tanya kakakku bergegas mencek keadaanku. Dengan wajah pucat aku menggeleng singkat, ku tatap ke samping ternyata sudah tidak ada lagi. Tak sengaja sikuku menyenggol benang yang ada di tepi.

Deg!

“K-ok bisaa?” tanyaku terbata.

Seharusnya benang ini bukan begini bentuknya masih dalam bentuk gumpalan bukan sudah tersusun rapi dililitan hitam itu.

“Kenapa?” tanyanya bingung.

“Gak apa-apa.” Kakak mengerti dia lantas mengambambilkan ku segelas air. “Makannyad dibilangin ngeyel,” omelnya.

“Pamali,” lanjutnya lagi.

Aku mengaguk pasrah dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Sudah cukup kapok untuk kali ini.

 

Selesai.

 

 

Bagaimana kawan misteri luhur, suka dengan cerita horor ? jangan lupa share agar kita bisa terus update cerita-cerita horor untuk menemani malammu.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *